It will be very honest review of myself, so beware
Selama hampir dua tahun ini, aku belajar banyak menjadi diriku dan naik tangga menuju yang namanya kedewasaan. Di usiaku yang menginjak 22 tahun, hidup makin menantang sekaligus makin terjal. Bahkan, makin kesini cahaya terang perlahan pudar. Kadang nyala, kadang hilang.
Menjadi
diri sendiri yang tidak extraordinary
sekaligus yang tidak sangat buruk, rasanya menyulitkan. Biasa-biasa saja,
menyulitkan diri sendiri. Awalnya lulus, mulailah limbung, tidak tahu
sebenarnya diri ini mau kemana dan suka apa. Tahu sih mau kemananya. Tapi,
terkadang perjuangan masih mencla-mencle
dan tidak optimal. Optimal dalam artian harus lebih. Contoh konkritnya, diriku
yang ingin sekali bisa pergi keliling dunia. Belajar bahasa inggris ditekuni,
dan hasilnya lumayan bagus. Tapi ya, hanya lumayan sih. Seperti tetap ada yang
kurang. Belum mampu mendorongku benar-benar untuk berani mengambil langkah ekstrem yang harusnya kuambil; mencoba
seluruh beasiswa dan jalan lain ke luar negeri.
Akhirnya,
aku memilih menjadi biasa-biasa saja, menjadi kebanyakan orang sarjana psikologi.
Mendaftar di beragam perusahaan kecil maupun wow. Itu-pun gagal kulakukan.
Titik terendah dalam hidup, yang mana sudah lelah ditolak sampai berpuluh-puluh
kali, menanti harapan akan datang, dan menanti bahwa kuota kegagalan akan
habis. Nyatanya, juga tidak habis habis kuota unlucky-nya. Terpikir sebenarnya aku yang salah atau memang benar
tidak beruntung? Akhirnya kuputuskan, setelah dipikir samak-samak, aku tidak
beruntung dan jalanku bukan disana. Yep, pasrah sajalah, kalau sudah mencoba
ikut rekrutmen saja sampe berulang kali dan tidak keterima, berarti jalanku
bukan jadi orang yang numpang duduk dan ngantor kan?
Turn out, it’s true. Hal itu baru aku sadari setahun kemudian,
tepatnya pertengahan tahun 2020. Menikmati masa freelance yang bebas bekerja kapan saja, bebas menerima dan menolak
tawaran, menggali segudang potensi, belajar dari nol sampai banting tulang,
mengambil seluruh pekerjaan dan tawaran yang ada. Challenging dan tampaknya berat, bahkan ada aja kerjaan yang sudah
kuambil agak kusesali karena kuambil. Tapi makin kulihat sisi positifnya.
Diriku sangat tidak suka hanya duduk terdiam, memandang layar, terpaku pada
pekerjaan. Ingin dan butuh variasi pekerjaan. Dan terutama, variasi waktu dan
tempat.
Pandemi
covid-19 lucunya membuatku bersyukur. Tidak jadi diterima bekerja di Jakarta.
Mana diriku bandel dan tukang nyepelein, ada kemungkinan 80% kalau aku kerja di
Jakarta, akan mendapatkan sial. Oleh karenanya, penolakan berpuluh kali berubah
seketika menjadi berkah. Berkah istimewa yang tak disadari jadi kusyukuri, even my parent didn’t think like that ofc.
Nah,
memang ada satu cahaya terang yang sempat muncul di akhir tahun lalu. Tidak
menyangka jalanku untuk kuliah dilancarkan. Pikirku sejak itu, wah memang aku
ditakdirkan kuliah lagi nih, yang memang salah satu keinginan utama. Aku pun
terus terpaku aku akan kuliah tahun ini, jalanku kuliah dulu, aku akan jadi
psikolog, sampai lupa pada hal penting yang mungkin harus aku kerjakan.
“WHO
AM I, REALLY?”
Even, I still don’t know who I
am, really. Aku memang seperti
air yang mengalir. Kalau berbelok ke kiri, akan mengikuti jalur ke kiri juga.
Tapi lupa, kalau tiba tiba ada batu dan batang kayu lewat, aliranku akan
terblok dan teralirkan ke arah lain yang berbeda dari seharusnya. Di sinilah
mulai; Life is full of surprise yet sad
and tragic.
Sad and tragic
dalam artian karena aku pun masih berjuang menginginkan diriku mengalir ke muara
yang seharusnya, bukannya terhenti karena batu besar dan batang kayu itu.
Apakah aku bisa? Apakah aku memang sebenarnya ditakdirkan kesana?
Who knows.
Aku
mengalami kegundahan besar. Dulu pikirku aku akan menjadi psikolog, ya ada
ketakutan yang sebenarnya terpendam namun tak disadari. Aku pikir itu normal.
Tapi, why and kenapa. Kenapa itu pun
bisa dilihat para psikolog dan mereka melihat itu sebagai ketidaksiapanku
menerima ketakutan itu. I think it more,
and more, and more. Why am I looked scared? Atau tidak tampak
siap? Atau motivasiku kurang matang? Atau dikalahkan sama orang orang lain yang
memang pantas dan aku masih menganggap kuota keberuntunganku habis?
Aku
sampai terus berpikir apakah memang aku itu tidak punya keberuntungan dalam
jalan karir. Apakah karena aku terlalu mengalir dan kurang ambisi? Terlalu
santai? Atau pasrah? Atau justru menyepelekan? Still, questions running in my head over and over. I am too tired of
it. Sekarang pun aku berpikir, aku sepertinya punya kolaborasi eksternal
dan internal.
Ini
adalah pemikiran sekarang, mungkin tahun depan ketika mendekati ketokan palu,
aku akan tahu jawaban yang sebenarnya apa.
Mungkin
kegagalanku karena: 1. Kurang beruntung, 2. Kurang siap dengan apa yang
terjadi, 3. Jangan jangan memang menjadi psikolog bukan jalanku dan aku tidak
cocok disana.
Poin
ketiga adalah yang paling aku takutkan. Jika nomer 3 benar, apalah dayaku
selama akhir tahun 2019 mempercayai diriku punya potensi dan minat yang begitu
besar tetapi tergagalkan oleh “memang bukan jalannya” I’ll cry so much on this. Harapanku, please, don’t be it’s because of number 3. I still think all of my
failure because of number 1 and 2. I
work on it, especially you, my number 2.
Kurang
siap. Bahkan aku langsung menyadari selama masa seleksi dan habis pengumuman.
Kutumpahkan segalanya pada teman-teman baikku. Kukeluarkan deritaku lewat air
mata meskipun hanya menetes sedikit. Rasanya habis sudah, like why my intuition should be right in this time.
Lelah
mental setelah tiga kali (Tiga kali woy!) wawancara. Rasanya seperti memaksa
diriku memperbaiki diriku tiap waktu sebelum ke wawancara dan seleksi
berikutnya. Yep, I just aware. Belum recovery sepenuhnya, aku harus siap
lagi. Justru saat sedang recovery,
aku sedang di tahap keraguan hebat. Akhirnya refleksi membuat berbagai alasan
untuk masuk graduate school, tapi yah
tidak tersampaikan semuanya dengan baik. Entah salah dalam berefleksi,
mengingat aku pun sedang belajar refleksi. Atau end up again, aku malah terlihat belum siapnya itu.
Apakah
diriku sudah tahu, belum siapnya dimana sih? Hmm, easy. Menjadi psikolog bukan hal yang mudah, siapa yang bilang
mudah. Bahkan seluruh psikolog pun tahu, setelah pengalaman bertahun-tahun it’s never been easy. Always challenging and
making you learn harder. But, that’s why make psychologist title is special.
Aku
suka tantangan, berusaha keluar dari zona nyaman, suka belajar, dsb dsb. Aku
ingin bertumbuh meski kadang perilaku ku malah sebaliknya L
(Smile and cry altogether guys). But,
alright. Menjadi psikolog dituntut untuk itu. Dan aku ingin seperti itu. Talking to people, check starting to love
it. Listening to people, check I starting to learn it how to. Empathizing
people, check I should work hard on this, but I think I get the potency. I am
still thinking, learning to be psychologist is learning by doing it, doing it
in graduate school. But, I am wrong, am not?
To be honest, ketakutanku adalah aku takut bertanggungjawab
pada pilihanku dan keputusanku. Keputusanku membimbing orang di jalan yang
tepat misalnya. I am certainly afraid of
that. I don’t know guys, apakah memang para interviewer melihat aku seperti
itu. Tapi, yah ya sudah. Aku berusaha menjadi lebih santai sekarang dan
menikmati membimbing dan mendampingi orang, secara INDIVIDUAL.
Belajar
untuk benar benar bisa tulus membantu orang, mendengarkan mereka yang memang
butuh ditolong, dan berempati. Belajar untuk bertanggungjawab dalam mendampingi
orang lain. I am starting to grow this
feeling and roles (and aware of that) since I am private teacher.
Happy, karena bisa menemukan alasan aku sudah tidak
takut lagi dan lebih siap, serta menemukan alasan aku tetap mau berjuang pada
jalanku di clinical psychologist
meski entah cukup atau tidak. Tapi, aku harus, bukan? Harus berjuang untuk
membangun diriku sendiri dari kegagalan. Memaknainya, dan kali ini harus
benar-benar memaknainya, tidak seperti tahun lalu (2019 by it any means).
Aku
mulai belajar memaknai kegagalan dan melihat dari segi positif dari beberapa
bulan ini, karena beberapa bulan ini adalah bulan ketika aku tidak menjadi apa
yang sudah aku rencanakan. Jadinya tahu kan, apa yang kualami kalau aku tidak
kuliah. YAH, Jalan kegelapan kalau bagiku sih masih ada di depan mata, masih
ada dan mengikuti setiap aku berjalan. Tapi mulai muncul kunang-kunang di
sekitarku. Mulai ada bintang bersinar dari kejauhan di langit malam. Mulai ada
bulan yang awannya tertiup angin. Positive
things come out, slowly. I believe in
that.
Aku
mau mencoba list hal positif yang kualami setelah aku ternyata tidak lanjut ke
jalan yang sepertinya diharuskan tahun ini.
1.
Tidak kuliah daring, tahun depan mungkin sudah tidak daring. One of my lucky maybe
2.
Dapat pekerjaan baru sana-sini. Relasi baru. Peluang baru yang lucunya, secara
tidak langsung, bisa jadi (ya, bisa jadi) justru membantuku untuk mempermudah
jalanku tahun depan.
3.
Belajar statistika, well, aku ingin mencobanya dan sudah jadi plan tapi selalu
terundur. Akhirnya! Yeah
4.
Conference international for the first
time. Ya meski enggak jadi presenter, tapi aku bahagia bisa nulis dua
jurnal (ya meski satunya namanya enggak dimasukin). Tapi itu pencapaian!!!!!!
Mari menangis bahagia (meski belum tentu dipublikasi juga sih. LOL.)
5.
Belajar menglelola yang namanya, WAKTU, ENERGI, MOTIVASI, or you name it.
Mengingat kembali kuliah apalagi S2 pasti enggak mudah lah ya, tapi senangnya
bisa ini nih, ngelola waktu dan motivasi untuk mengerjakan pekerjaan yang kalau
seabrek bisa seabrek banget, dan kalau selo bisa selo banget. Apa salahku ya,
Tuhan. Time like playing chess with me,
hhh
6.
THE LAST THING, MY MEOW MEOW! I am still surprised my family took a cute catto
to the home. And 24/7 in my home. It’s
real blessing!! Bayangkan diriku akan kuliah keluar atau pindah tempat, aku
tidak memiliki banyak waktu dengan my meow.
Mungkin akan ada hal positif baru yang datang. Atau justru hal hal negatif yang tampak tidak positif (ya, contoh saja namanya kerjaan berat yang menantang nalar dan zona aman). Tapi, mari kita manfaatkan sebagai ladang belajar. Terakhir, dengarkan dan tidak dengarkan juga orang-orang lain yang berupaya menggoyahkan jalanku! Maksudku dengarkan mereka, yah ketahuilah apa yang mereka inginkan dari aku. Terus tidak dengarkan, ya artinya habis aku tahu apa yang mereka harapkan, kalau tidak sesuai fokusku sebenarnya, jangan terus dimasukkan ke dalam hati dan menjadi malah menggundahkan hatiku. It’s still a chance, though. So, fight for this, my dear self. Until, you know when to stop, even I actually don’t know when the time I need to change my way and stop to fight this way. Luv all.

Comments
Post a Comment