Kopi, one of my love in life.
Ada cerita unik di masa awal suka kopi.
Awal aku minum kopi, aku mendapatkan impresi buruk. Waktu itu diajak kakak kos nongkrong nih di sebuah cafe dekat kos. Ditraktirlah kopi. Aku yang masih awam dengan kopi saat itu, memilih nama kopi yang menurutku menarik dan membuatku kepo karena sering mendengar namanya daripada espresso. Bukan juga cappucino. Sayangnya, bukan mochacino. Tapi, Americano.
Dulu, beberapa tahun lalu, minuman favoritku di cafe adalah es cokelat. Aku penyuka cokelat sejati, suka suka banget. Makan cokelat batangan macem langganan di rumah. Teman dekatku biasa beli kopi kalau aku ke cafe, tapi aku tidak pernah sekalipun tertarik pada jenis-jenis kopinya.
Nah, bisa dibayangkan, pertama kali minum Americano sebagai kopi yang pertama diminum. Bayangkan dulu aku belum paham kalau gula di kopi itu terpisah. Saat minum pertama kali.....
Adalah momen paling tidak terlupakan dalam hidup.
PAHIT!
Rasanya lidah kelu, mati rasa... Pengen muntahin juga.
Kakak kos juga sudah memperingatkan untuk tidak beli Americano, tapi aku tetap kekeuh beli karena sesederhana tertarik dengan nama dan kepopulerannya.
Yah, nasi sudah jadi bubur, biji kopi sudah terlanjur diolah untuk aku minum sebagai kopi, kopi sudah terlanjur dibeli, ya sudah deh ditahan-tahan, disisip dikit-dikit sambil merem nahan pahit. Bagiku saat itu penyuka cokelat manis....pahitnya Americano tidak tertahankan. Aku pun yang sudah penyuka kopi saat ini masih mengingat momen itu dan tetap tidak mau kembali HAHAHA.
Bagaimanapun juga, rasa itu juga relatif. Relatif waktu dan pengalaman lidahku saat itu.
Kesimpulannya, impresiku terhadap kopi itu buruk banget.
Pengalaman berikutnya dengan kopi lebih tidak diduga-duga lagi. Kopi meninggalkan luka pada tubuhku. Bukan metafora ya, memang luka....
Saat itu, masa skripsian memang tidak main-main. Mental lagi dihajar, tubuh juga ikut terhajar. Sariawan sampai berlapis-lapis tuh, nyata adanya. Sering ke cafe jelas jadi rutinitas meski masih suka beli es cokelat. Saat itu, aku datang ke cafe agak pagian sehingga belum sempat makan siang. Waktu itu, masih hemat pakai banget (yaiyalah duit orang tua), jadi belinya pun cuma minum dan buah semangka beli di luar cafe haha. Salah satu temanku, beli es kopi seperti biasa. Bisa dibilang, aku tidak ingat sudah pernah mencoba kopinya atau belum, tetapi memang tiada ketertarikan dengan kopi di cafe itu (padahal ke cafe itu sudah beribu-ribu kali deh).
Tapi tidak disangka, diriku saat itu tergugah. Entah mengapa ada suatu sengatan listrik, "hm kayaknya aku pengen coba kopinya ya, kayak gimana sih kok semua temenku beli kopi itu"
Dalam batinku dan memori rasa di lidah, kopi masih pahit bagiku. Dulu cupu banget deh guys, karena belum tahu ada namana es kopi susu, cafe latte, capucino, atau jenis kopi yang sebenarnya ada campuran susu dan gula enggak bakal jadi pahit banget WKWK.
Aku akhirnya menyisip nih punya temanku, cuma satu tegukan. Tau enggak waktu itu rasanya gimana? "LOH KOK ENAK?"
Rasanya seperti terkhianati dan tertipu, sering banget ke cafe itu tapi enggak pernah sekalipun mencoba beli es kopi susunya. Tapi karena punya temenku (wkwk), ya enggak aku minta lagi lah. Mau beli sudah terlanjur beli es cokelat. Skripsi di depan mata lebih penting juga.
Saat itu, tidak disadari, lambungku yang belum makan pagi dan siang bergejolak. Bagi. seseorang yang belum pernah minum kopi, dan sekalinya minum kopi di saat lambung kosong, meskipun cuma seteguk..cuma seteguk...efeknya..
AKU KENA MAAG FOR THE FIRST TIME HUAAAAA
(ya ada efek stres skripsi juga sih, kopi kaga bisa disalahin mulu yha)
sampai aku harus ke dokter karena udah minum obat tapi telat tuh minumnya, kaga tau juga kalo ternyata maag kan baru pertama kale
SECOND CHANCE...impresiku sama kopi makin buruk..
Harusnya..
Tap rasa aku minum es kopi susu pertama kali itu tidak membuatku terlupa.
Berbekas banget malah, di lidah dan di lambung (haha sediy)
Setelah itu, meskipun punya riwayat maag, sering-sering beli deh kopi. Waktu di akhir-akhir merantau, masih lumayan nih beli kopi cuma kadang-kadang. Sebulan paling ya cuma satu atau dua, atau ya enggak pernah sama sekali.
Habis merantau itu deh, kena deh pengaruh hipnotis kopi pas balik kampung halaman.
Sekarang, seminggu bisa dihitung jari deh. Bisa sampai jari di satu tangan ada. Kalau enggak ada kopi rasanya sulit konsentrasi...
Sudah bisa familiar banyak merek kopi, banyak jenis kopi, paham sedikit sedikit cara ngolahnya.
Tapi perubahan signifikan adalah pola rasa di lidah.
Lidahku sudah tidak menyukai manis.
Manisku di lidah menjadi pahit di masa lalu.
Beli es cokelat rasanya seperti tidak tahan, saking manisnya bagiku.
Coba diriku di masa lalu tahu, bakal terpikir "ni anak aneh banget sih, kayaknya bukan dita deh?"
Apa kesimpulannya dari cerita ini? HAHAHA semoga ada insight ya.
Tapi impresi kopi sama seperti impresiku dengan teman-teman sekitar, terutama teman dekat.
TIdak bisa dipungkiri, dulu aku orangnya agak judgmental dan stereotip (Ya mungkin masih lah ada sisa-sisanya sampai sekarang)
Nah karena ini, aku juga mengandalkan impresi pertama ketemu orang lain atau yang aku lihat dari orang lain.
Uniknya, temen-temen dekatku kebanyakan memiliki impresi pertama yang tidak bagus amat-amat di mataku. Misalnya nih, ada yang bagiku dia terlalu diam jadi kesannya kok cupu ya. Atau ada yang nampak kekanak-kanakan. Atau sesederhana ada yang gemuk.
Justru aku saat ini lebih dekat dengan teman-teman yang aku pandang dari sisi negatifnya terlebih dahulu. Apakah itu karma? hm tidak ya.
Mungkin secara tidak sadar, aku lebih tertarik dengan orang-orang yang menurutku punya impresi negatif. Hal itu membuatku tertarik untuk berkenalan lebih jauh, mungkin di dalam diri ini ada usaha untuk membuktikan bahwa impresi negatif itu tergoyahkan.
Kenyataannya, ya, tidak sih. Emang teman-temanku pribadinya ya rerata sama seperti impresi pertamaku pada mereka. Tapi, aku jadi jauh lebih menerima mereka dan mendapatkan banyak hal positif daripada negatif.
Sebaliknya, justru ketika aku punya impresi positif bahkan over-positive terhadap orang lain, aku tidak bisa mendekat. Entah mengapa, apakah secara tidak sadar aku justru merasa terintimidasi dengan hal positif yang aku tangkap dari mereka? merasa aku tidak bisa bebas menjadi diriku sendiri kalau sekitar mereka? Yap, logika yang aneh, tapi mau tidak mau self-cofidence itu nyata adanya.
Mungkin sekarang berusaha mengatur diriku. Bagaimana caranya supaya impresiku dengan orang lain adalah NETRAL. Tidak over-positif dan over-negatif, bahkan sebisa mungkin jangan ada positif negatifan deh HAHAHA.
Terima kasih yang sudah membaca sejauh ini, intinya kopi pun membuatku mengenali suatu isu dalam diri yang masih terbawa di hidupku sekarang.
Comments
Post a Comment